Kita membutuhkan „Science Journalist“

Mungkin 4 Juli merupakan saat yang spesial buat fisikawan. Bukan karena hari itu ialah hari kemerdekaan AS. Namun karena hari itu ialah hari diumumkannya secara resmi penemuan partikel elementer Higgs (fisikawan menamakannya Higgs-Boson) sebagai partikel elementer yang menjelaskan mengapa materi memiliki massa.  Singkat cerita, penemuan ini mengantarkan dua orang penggagas teori keberadaan partikel Higgs mendapat penghargaan Nobel Fisika 2013 yang telah diumumkan 8 Oktober 2013 lalu.

Penulis yang bukan berlatar belakang Fisika belum pernah mendengar istilah partikel Higgs sebelumnya. Dan bahkan baru kali ini pula mengenal istilah „partikel Tuhan“ yang disematkan ke partikel Higgs. Mengapa disebut demikian pun penulis tidak paham. Sehingga, euforia para fisikawan mengenai penemuan partikel HIggs tidak sampai menggugah sisi emosional penulis meski penulis sadar bahwa penemuan yang berkaitan dengan partikel elementer pastinya merupakan bagian fundamental dari sains murni (pure natural science).

Beruntung, banyak sekali sumber bacaan di internet yang dapat dijadikan rujukan sahih untuk sekedar mengenal kulit dari apa dan bagaimana partikel Higgs itu. Dan respon media nasional kita tentang penemuan bersejarah bagi dunia Fisika cukup ramai dengan memberitakan penemuan konsorsium peneliti CERN. Apalagi setelah mengetahui bahwa ada salah satu putra asli Indonesia yang bekerja dan terlibat di dalam penemuan itu di CERN. Penjelasannya banyak membantu ketika ingin lebih jauh mengenal partikel elementer pembawa massa atau partikel Tuhan ini. Meski penulis akui bahwa apa dan bagaimana-nya partikel elementer ini masih kabur.

Yang patut sedikit disesali ialah ketiadaan sumber rujukan yang berkaitan dengan „partikel Tuhan“ ini dalam bahasa Indonesia. Dari sekian banyak sumber yang terlacak baik berupa berita online maupun blog, hampir semuanya hanya repetisi pemberitaan satu dan lainnya atau sekedar mengutip atau menerjemahkan apa yang sudah diberitakan oleh portal berita asing. Harapan penulis untuk dapat menemukan rujukan bahasa Indonesia yang mencerahkan rasa keingintahuan soal partikel ini memang agaknya tidak tersempaikan. Penulis terpaksa harus menelan bulat-bulat bahwa partikel ini ialah „partikel pembawa massa“ tanpa mendapatkan sedikitpun imajinasi dan membayangkan bagaimana deskripsi tugas partikel Higgs ini di alam.

Science journalism

Di hadapan hal-ihwal partikel Higgs, penulis ialah orang awam. Sama sekali tidak tahu apa itu dunia fisika partikel elementer. Namun bukan berarti tidak memiliki minat sama sekali untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu. Sama dengan peminat dan penikmat sains yang lain, rasa keingintahuan itu bukan keinginan untuk melihat lebih detil kalkulasi matematis atau mendengar paparan ilmiah para pakar menjelaskan partikel ini. Melainkan pemaparan yang renyah dan kreatif dengan bahasa yang mudah tanpa sedikitpun menghilangkan esensi apa dan bagaimana partikel Higgs yang sebenarnya.

Kita pastinya mengenal istilah tulisan sains populer untuk menyebut jenis pemaparan di atas. Pemaparan mencerahkan dan mencerdaskan yang mengkomunikasikan progres dunia sains yang sangat khusus, rumit dan sulit diimajinasikan dengan khalayak umum yang memiliki beragam jenis latar belakang keilmuan melalui bahasa yang kreatif namun tetap mewakili esensi. Pemaparan ini jelas tidak menyertakan kalkulasi maupun notasi matematis yang njlimet, namun memuat penafsiran kualitatif. Dan pemaparan ini berlaku untuk semua cabang sains secara umum, tidak terfokus soal fisika semata.

Bercermin dari kesulitan penulis mencari ulasan berbahasa Indonesia tentang partikel Higgs, di sinilah sebenarnya problem umum kita. Sebagai masyarakat yang memang masih belia dalam budaya membaca dan masih balita dalam urusan menulis, kita jelas-jelas kekurangan penulis-penulis kreatif yang dapat menerjemahkan bahasa spesifik sarat simbol sains atau teknologi ke dalam bahasa yang lebih cair untuk awam. Kita kekurangan „pengamat“ atau „komentator“ sains (baca : sains alam –pen.) yang tidak hanya memiliki pemahaman yang cukup baik soal sains, namun juga memiliki kemampuan untuk menulis dengan sama baiknya.

Sejatinya, penulis kreatif sains populer ini tidak perlu menjelma sebagai seorang profesor universitas, atau peneliti senior di sebuah institusi riset dengan jam terbang mengajar dan meneliti yang tinggi. Penulis kreatif ini tidak pula memerlukan otoritas menulis dan berbicara soal sains tertentu dengan raihan sertifikat derajat akademik khusus. Peran sebagai penulis kreatif ini dapat diambil oleh siapa saja; wartawan, penulis lepas, mahasiswa dan guru sekolah, meski tidak jarang „panggilan“ menulis sains populer dirangkap oleh kalangan akademisi.

Tema dan topik yang diangkatnya pun tidak selalu diharapkan bersinggungan dengan „sains langitan“ semisal fisika partikel, fisika kuantum atau tema-tema high-tech seperti nanoteknologi dan biologi evolusioner. Melainkan juga tema-tema aktual yang lebih berhubungan dengan kebutuhan semisal tenaga listrik, energi, bencana alam, ketahanan pangan, kedokteran-kesehatan atau kelestarian dan perlindungan alam.

Di negara dengan budaya baca-tulis yang mapan, penulisan sains bergaya populer telah melahirkan apa yang dikenal dengan „science journalism“ yakni varian jurnalistik yang berkonsentrasi pada pewartaan sains (dan teknologi) dengan gaya bahasa yang sederhana. Kita biasa menemukannya pada kolom-kolom sains-teknologi di harian atau mingguan, atau pada majalah khusus semisal Technology Review, National Geographic, atau bahkan saluran televisi semisal Discovery Channel. Blog pun menjadi saluran ekspresi penulisan sains dengan bahasa populer nan kreatif.

Khasanah sains populer di Indonesia sebenarnya tidak dapat disebut nihil sama sekali. Kita tentu mengenal „Dongeng Geologi“-nya Rovicky Dwi Putrohari, seorang profesional migas alumnus Geologi UGM. Blognya sudah menjadi rujukan standar informasi soal gempa bumi serta kebencanaalaman yang dapat diakses secara luas. Sedangkan untuk penulisan sains populer dalam bentuk buku, kita mengenal best seller Ayat-ayat Semesta dan Nalar Ayat-ayat Semesta karya Agus Purwanto, seorang pakar neutrino (salah satu partikel elementer) dan fisika teoretik ITS Surabaya. Agus Purwanto lebih banyak mencurahkan gagasannya perihal relasi sains dan agama (Islam). Mengingat bukunya selalu menjadi best seller, agaknya bahasa penyampaiannya sangat diapreasiasi oleh masyarakat awam. Bisa disebutkan lagi tokoh astronomi LAPAN Thomas Djamaluddin yang aktif dan sangat produktif menulis sains populer astronomi dan ilmu rukyat sehingga dapat dinikmati khalayak umum. Di luar tiga orang tersebut, masih banyak penulis kreatif sains populer lainnya. Hanya saja, militansi menulis serta orisinalitas ide dan cara penyampaian ketiganya sulit ditandingi.

Meski tidak dituntut untuk menguasai bidang sains yang menjadi bahan penulisan sains populer, terlihat bahwa penulis sains populer perlu mengumpulkan banyak informasi terlebih dahulu sebelum dapat menyarikannya menjadi informasi yang mudah untuk disampaikan. Peran ini semestinya lebih banyak diambil oleh wartawan profesional. Sedangkan tiga contoh penulis Indonesia di atas merupakan representasi penulis sains populer seputar bidang yang memang menjadi keahliannya. Keuntungan tiga penulis ini ialah mereka tidak perlu lagi repot-repot mengumpulkan literatur topik yang hendak diangkat karena memang topik tersebut sudah lekat dengan rutinitas sehari-hari. Sisi orisinalitas tulisan sains populer itu lekat pada orang-orang ini. Tidak hanya  orisinal dalam topik informasi yang disampaikan ke khalayak umum, melainkan pula orisinal dalam caranya menjelaskan topik yang bersangkutan.

Mengajak berimajinasi

Coba perhatikan ringkasan peran partikel Higgs yang memberi massa pada partikel lain yang saya dapatkan dari New York Times (NYT) dalam gaya penyampaian sains populer berikut:

Partikel Higgs divisualisasikan seperti butiran salju dan medan gaya Higgs otomatis diibaratkan dengan lapangan salju. Interaksi partikel lain dengan medan gaya Higgs direpresentasikan dengan keberadaan orang-orang yang tengah bermain ski di atas lapangan salju tersebut. Orang dengan papan ski dapat berjalan dan meluncur dengan mulus di atas salju. Jejak panjang papan ski yang terbentuk ialah ukuran seberapa berat orang plus papan ski sebagai interaksi orang tersebut dengan permukaan salju. Lain halnya dengan orang yang berjalan dengan sepatu boot di atas salju. Jelas sekali bahwa sepatu orang tersebut masuk lebih dalam ke dalam lapisan salju dan sebagai konsekuensinya, berjalan di atas salju menjadi sangat sulit.

Dua orang dengan sepatu dan cara bergerak yang berbeda ini dianalogikan dengan dua jenis partikel yang berbeda satu sama lain namun sama-sama tengah berinteraksi dengan medan gaya HIggs yang divisualisasikan sebagai lapangan salju. Dari sini, terlihat lebih jelas bagaimana medan gaya HIggs memberi massa bagi partikel-partikel.  Lantas bagaimana dengan partikel yang tidak memiliki massa sepeti photon (partikel cahaya)? Partikel yang tidak bermassa ini direpresentasikan dengan burung yang terbang di atas lapangan salju. Tidak bersentuhannya burung dengan salju merepresentasikan tiadanya interaksi antara partikel cahaya dengan medan gaya Higgs. Dikarenakan partikel cahaya tidak berinteraksi dengan medan gaya HIggs, maka cahaya tersebut tidak bermassa. Dan tidak ada jejak burung di atas salju.

Setidaknya ini yang penulis pahami dari penjelasan analogis yang penulis ambil dari NYT di atas, mudah-mudahan kalau pun keliru, penulis tidak keliru terlalu jauh :-). Pemaparan dengan gaya penulisan di atas jelas mencerminkan level pemahaman seorang science journalist pada topik hangat terlepas bagaimana dia mendapatkan ide bagaimana menjelaskan cara kerja partikel Higgs. Mencerahkan sekaligus mencerdaskan dengan sangat sederhana dan imajinatif. Dan tentu saja, tidak lahir dari proses belajar menulis dua-tiga malam.

Science journalist layaknya contoh-contoh di atas lah yang kita tunggu kehadirannya. Kita dapat membayangkan jika setiap satu dari sekian puluh mahasiswa, guru sekolah atau pengajar di universitas di Indonesia memulai untuk berani menuliskan perspektif lain dari fenomena sains yang sesuai dengan esensinya, namun dalam penyampaian yang sederhana, bisa jadi masyarakat memiliki banyak cara pula untuk mempelajari sains dengan metode yang lebih segar dan jauh dari kata membosankan. Mahasiswa maupun akademisi Indonesia, terutama yang tengah belajar maupun bekerja di luar negeri selayaknya berinisiatif mengambil porsi lebih besar dalam memainkan peran sebagai science journalist. Kedekatan dengan aktifitas ilmiah di pusat-pusat penelitian, keleluasaan akses literatur serta keberadaan atmosfer akademik yang baik hendaknya dapat dimaksimalkan dengan jalan meluangkan sejenak waktu untuk mengasah dan menghidupkan peran science journalist ini. Hanya persoalannya tinggal kapan memulainya saja.

Iklan

3 Komentar

Filed under Pendidikan

3 responses to “Kita membutuhkan „Science Journalist“

  1. Hallo, sebenarnya sudah ada kok “science jurnalism” di Indonesia walaupun lebih independen dan sebagian besar berbentuk blog saja. Buat Higgs ini saja ada beberapa link yang bisa dibaca. Ini salah satu contohnya:
    http://langitselatan.com/2013/02/04/mengenal-boson-higgs/

    • Adhi

      INi menggembirakan. Science journalism itu memang banyak namun Kita perlu lebih banyak lagi.
      Semoga trus membanjiri publik dengan info2 Yang bermanfaat.

      Salam

  2. Reblogged this on tofaninoff wordálana and commented:
    Setuju nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s